Penyebab Bencana Banjir dan Longsor Hebat di Sumatera Utara

no-image

Foto: (Tangkapan Layar)

Penyebab Bencana Banjir dan Longsor Hebat di Sumatera Utara

D-creative.com - Bencana banjir bandang dan longsor melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak Senin (24/11/2025). Tragedi ini telah menyebabkan ratusan korban jiwa dan memaksa ribuan orang mengungsi. Data terbaru menunjukkan bahwa korban meninggal akibat banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara telah mencapai 116 orang.

Banjir dan longsor masif yang terjadi di Sumatera ini dinilai dipicu oleh gabungan faktor atmosfer, kondisi geospasial, serta menurunnya daya tampung wilayah. Rangkaian faktor ini saling menguatkan, menyebabkan hujan ekstrem berujung pada banjir besar dan longsor di banyak titik.

Siklon Tropis Senyar Memicu Cuaca Ekstrem

Hujan lebat yang mengguyur Sumatera bagian utara disebabkan oleh kemunculan Siklon Tropis Senyar. Siklon ini terbentuk dari Bibit Siklon 95B di Selat Malaka, sebelah timur Aceh, pada Rabu (26/11/2025).

  • Kemunculan Senyar menyebabkan cuaca ekstrem berupa hujan lebat di sebagian Aceh hingga Sumatera Utara.
  • Dampaknya meluas ke Sumatera Barat dan Riau dengan hujan sedang hingga lebat, disertai angin kencang juga terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, dan Riau.

Siklon Tropis Senyar dikategorikan sebagai fenomena yang tidak umum di wilayah perairan Selat Malaka, apalagi jika sampai melintasi daratan. Secara teori klimatologi, wilayah dekat ekuator seharusnya kurang mendukung pembentukan siklon tropis. Namun, catatan lima tahun terakhir menunjukkan bahwa siklon tropis semakin sering mendekati Indonesia, termasuk Senyar.

Kemunculan Senyar ini dipicu oleh rangkaian anomali atmosfer, seperti penguatan monsun Asia, konvergensi besar di Selat Malaka, suhu laut yang hangat, serta shear angin rendah. Fenomena regional seperti MJO, gelombang Kelvin, dan Rossby Wave juga turut memperkuat konvektivitas, sehingga bibit siklon berkembang di selat yang sempit. Perubahan pola cuaca dan tren siklon tropis yang mendekati wilayah Indonesia menunjukkan bahwa negara ini tidak lagi sepenuhnya terlindungi dari ancaman siklon tropis.

Puncak Musim Hujan dan Kerusakan Lingkungan

Hujan ekstrem ini terjadi saat Sumatera bagian utara memasuki puncak musim hujan. Pola hujan di wilayah ini memiliki dua puncak dalam setahun, dan periode saat ini berada pada salah satu puncaknya. Curah hujan pada periode ini tergolong sangat lebat, dengan beberapa wilayah mencatat lebih dari 150 milimeter, bahkan ada yang mencapai lebih dari 300 milimeter (kategori ekstrem).

Selain itu, ekstremnya hujan diperkuat oleh adanya pusaran atau sirkulasi siklonik yang terlihat sejak 24 November, yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Meskipun tidak sekuat siklon di Samudra Hindia atau Pasifik, Senyar cukup meningkatkan suplai uap air, memperkuat awan hujan, dan memperluas cakupan curah hujan di Sumatera utara.

Faktor lain yang memperburuk dampak bencana adalah kerusakan lingkungan, perubahan tutupan lahan, dan menurunnya kapasitas tampung wilayah.

  • Proporsi air yang meresap ke dalam tanah (infiltrasi) berbanding air yang mengalir di permukaan (runoff) sangat bergantung pada tutupan lahan.
  • Kawasan dengan vegetasi alami seperti hutan memiliki serapan air jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah yang telah berubah menjadi permukiman atau perkebunan.
  • Hilangnya kawasan penahan air alami menyebabkan wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan air. Akibatnya, air hujan langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir.

Mitigasi bencana yang disarankan harus menggabungkan langkah struktural dan nonstruktural. Perlindungan kawasan resapan air alami seperti hutan, rawa, dan sempadan sungai dinilai sangat penting. Selain itu, penataan ruang berbasis risiko, konservasi, dan pemodelan geospasial yang komprehensif perlu ditingkatkan. Penting juga agar peringatan dini harus akurat secara ilmiah dan mudah dipahami oleh masyarakat, diterjemahkan menjadi informasi praktis mengenai area dan waktu potensi dampak, serta langkah antisipasi. 

Pemantauan Dampak Bencana

Siklon Tropis Senyar telah mulai menjauhi Indonesia dan melemah setelah memasuki wilayah Malaysia per Jumat (28/11/2025), dan diprediksi akan terus menjauh ke arah Laut China Selatan. Siklon ini dinyatakan sudah punah atau melemah dan tidak lagi aktif di Indonesia.

Meskipun demikian, sisa gangguan atmosfer dari eks-Senyar masih ikut menaikkan curah hujan, memicu angin kencang, dan menimbulkan gelombang tinggi di sejumlah wilayah. Bencana ini telah menimbulkan 34 korban meninggal, 52 orang hilang, serta ribuan warga terdampak dan mengungsi, dengan jumlah korban masih berpotensi bertambah.

author Admin 28 Nov 2025