Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi meluncurkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp). Program tersebut diawali dengan pembangunan 14 PLTS yang memiliki total kapasitas 5,3 GWp dan tersebar di enam provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.
Peluncuran program sekaligus peletakan batu pertama dilakukan di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, pada Selasa. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah menargetkan pembangunan PLTS berkapasitas 100 GWp dapat diselesaikan dalam waktu tiga tahun. Bahkan, ia mendorong tim di bidang energi agar proyek tersebut dapat diselesaikan lebih cepat, yaitu dalam waktu sekitar dua tahun.
Menurut Prabowo, pembangunan PLTS dalam skala besar ini menjadi salah satu langkah penting pemerintah untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi nasional. Dengan meningkatkan pemanfaatan energi surya, Indonesia diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi dari luar negeri serta semakin mampu memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri.
Selain pengembangan PLTS, pemerintah juga terus mendorong pemanfaatan sumber energi lainnya, seperti panas bumi, penemuan ladang gas baru, serta peningkatan produksi minyak dalam negeri. Berbagai upaya tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Prabowo juga meminta seluruh pihak yang terlibat, termasuk Kabinet Merah Putih, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), PT PLN (Persero), dan PT Pertamina (Persero), untuk bekerja secara cepat, terkoordinasi, dan solid dalam menjalankan program tersebut.
Di Bali sendiri, pembangunan program PLTS ditandai dengan dimulainya proyek PLTS Gilimanuk yang berada di kawasan Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali. Berdasarkan data PT PLN (Persero), PLTS Gilimanuk dirancang memiliki kapasitas sebesar 300 MWp dan akan dilengkapi dengan sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 1.000 MWh.
Proyek PLTS Gilimanuk diperkirakan membutuhkan nilai investasi sekitar Rp6,057 triliun. Fasilitas tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan energi sekitar 470 GWh setiap tahun. Dengan produksi tersebut, PLTS Gilimanuk diperkirakan dapat menghemat penggunaan bahan bakar minyak hingga sekitar 151 ribu kiloliter per tahun.
Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan Bali dapat memiliki kapasitas PLTS hingga 1.000 MWp yang akan didukung oleh sistem penyimpanan energi baterai dengan kapasitas mencapai 3.300 MWh.
Program PLTS 100 GWp ini merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air. Program tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian serta ketahanan energi Indonesia, sekaligus mendorong penggunaan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.