Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026). Gempa kuat tersebut turut memicu tsunami di sejumlah kawasan pesisir NTT.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan bahwa gempa dengan kekuatan sebesar ini pernah terjadi di wilayah NTT sekitar tiga dekade lalu. Menurutnya, gempa kali ini disebabkan oleh aktivitas sesar naik Busur Utara Flores dan memiliki potensi kekuatan maksimum sekitar magnitudo 7,8 hingga 7,9.
Wijayanto menjelaskan bahwa gempa serupa pernah terjadi pada 12 Desember 1992 dengan kekuatan magnitudo 7,5. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Gempa Flores 1992, yang kemudian diikuti tsunami dan menyebabkan kerusakan besar di sepanjang pesisir utara Flores.
Pada 1992, pusat gempa berada di laut, sekitar 35 kilometer di sebelah utara Maumere. Guncangan yang sangat kuat menyebabkan ratusan bangunan di Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, runtuh. Sejumlah permukiman di kawasan pesisir juga terdampak karena sebagian daratan mengalami ambles.
Tidak lama setelah gempa, gelombang tsunami menerjang wilayah pesisir utara Flores. Air laut masuk hingga sekitar 75–300 meter dari garis pantai, menghantam berbagai permukiman dan kawasan di sepanjang pesisir.
Dampak tsunami menjadi semakin parah ketika gelombang memasuki wilayah teluk yang sempit. Teluk Maumere dan Teluk Hading di kawasan Larantuka termasuk daerah yang mengalami kerusakan berat. Bahkan, berdasarkan laporan Harian Kompas pada 23 Desember 1992, tiga kampung pesisir di Kabupaten Flores Timur dilaporkan hilang akibat terjangan tsunami.
Pulau Babi, yang terletak di bagian utara Teluk Maumere, juga mengalami kehancuran. Permukiman warga Buton di pulau tersebut berubah menjadi puing setelah dihantam gempa dan tsunami.
Kesaksian para penyintas menunjukkan bahwa bencana tersebut berlangsung sangat cepat. Laporan Bali Post pada 21 Mei 1993 menyebutkan bahwa gempa dan tsunami datang tanpa peringatan dan menyapu hampir seluruh benda yang berada di jalurnya. Rumah serta berbagai barang warga terbawa arus, sementara sejumlah pohon kelapa masih bertahan.
Tsunami Flores 1992 tercatat memiliki ketinggian hingga sekitar 25 meter di beberapa lokasi. Bencana tersebut menyebabkan jumlah korban yang sangat besar.
Berdasarkan data BNPB, lebih dari 2.500 orang meninggal dunia, sekitar 500 orang dinyatakan hilang, dan 447 orang mengalami luka-luka. Selain itu, sekitar 5.000 warga harus mengungsi akibat bencana tersebut.
Wilayah yang terdampak meliputi pesisir utara Kabupaten Ngada, Ende, Sikka, hingga Flores Timur. Kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas umum. Diperkirakan sekitar 18.000 rumah, 113 sekolah, dan 90 tempat ibadah mengalami kehancuran.
Tragedi Gempa Flores 1992 kemudian tercatat sebagai salah satu bencana gempa bumi dan tsunami paling mematikan dalam sejarah Indonesia. Kini, lebih dari tiga dekade setelah peristiwa tersebut, gempa berkekuatan besar kembali mengguncang NTT. Peristiwa ini kembali mengingatkan masyarakat bahwa wilayah Flores memiliki risiko gempa dan tsunami yang perlu selalu diwaspadai.