Devplan-creative.com, - Sebuah penelitian terbaru mengungkap adanya hubungan antara penggunaan internet secara berlebihan dengan meningkatnya tingkat stres, memburuknya suasana hati, serta berkurangnya waktu yang dialokasikan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Riset yang dipimpin oleh para peneliti dari University of Duisburg-Essen, Jerman, melibatkan sekitar 900 responden dewasa. Pengumpulan data dilakukan dalam rentang waktu Oktober 2021 hingga Agustus 2024.
Seluruh partisipan diketahui pernah menggunakan internet dalam satu tahun terakhir untuk berbagai aktivitas, seperti bermain gim, mengakses media sosial, berbelanja secara daring, maupun mengonsumsi konten dewasa.
Dalam penelitian ini, para peneliti mengelompokkan pola penggunaan internet ke dalam tiga kategori, yaitu tidak bermasalah, berisiko, dan patologis. Pengelompokan tersebut dilakukan melalui wawancara diagnostik yang bertujuan menilai sejauh mana aktivitas daring telah memengaruhi kehidupan peserta.
Seseorang dikategorikan memiliki penggunaan internet yang bermasalah apabila aktivitas tersebut telah menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan atau mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Kategori ini mencakup individu dengan tingkat risiko maupun kondisi patologis.
Selama dua minggu masa observasi, seluruh peserta diminta mengisi evaluasi harian setiap malam. Penilaian tersebut mencakup kondisi suasana hati, tingkat stres, keinginan untuk mengakses internet, durasi penggunaan internet, tingkat kepuasan yang diperoleh setelah beraktivitas daring, serta sejauh mana aktivitas lain terabaikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta dengan tingkat penggunaan internet bermasalah yang lebih tinggi cenderung mengalami suasana hati yang lebih negatif, tingkat stres yang lebih besar, waktu penggunaan internet yang lebih lama, serta kecenderungan mengesampingkan aktivitas penting lainnya.
Meskipun demikian, peneliti menemukan bahwa faktor yang paling kuat dalam memprediksi seseorang akan melakukan aktivitas daring pada hari tertentu bukanlah tingkat stres ataupun suasana hati, melainkan dorongan internal untuk mengakses internet.
Salah satu penulis penelitian, Andreas Oelker, menjelaskan bahwa dorongan sesaat untuk menggunakan internet memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan kondisi emosional dalam menentukan apakah seseorang akan melakukan aktivitas daring sekaligus merasakan dampak positif maupun negatif dari aktivitas tersebut.
Penelitian juga memperlihatkan bahwa ketika dorongan untuk mengakses internet meningkat, peserta cenderung menghabiskan waktu lebih lama secara daring. Kondisi tersebut disertai dengan munculnya rasa senang atau lega, namun di sisi lain juga meningkatkan kecenderungan mengabaikan tanggung jawab maupun aktivitas lain yang lebih penting.
Perasaan positif yang muncul setelah menggunakan internet diduga dapat memperkuat kebiasaan tersebut sehingga keinginan untuk kembali mengakses internet menjadi semakin sulit dikendalikan. Dampak negatif ini terlihat lebih nyata pada individu yang telah menunjukkan gejala penggunaan internet bermasalah dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi.
Penelitian Belum Membuktikan Hubungan Sebab-Akibat
Meskipun menemukan adanya hubungan yang konsisten, penelitian ini bersifat observasional sehingga belum dapat menyimpulkan bahwa penggunaan internet secara langsung menjadi penyebab meningkatnya stres atau memburuknya suasana hati.
Selain itu, mayoritas responden merupakan kelompok dewasa muda yang direkrut berdasarkan tingkat keparahan penggunaan internet yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, hasil penelitian ini belum dapat dianggap mewakili kondisi seluruh populasi.
Penelitian juga bergantung pada laporan yang diberikan langsung oleh para peserta. Di samping itu, proses evaluasi yang hanya dilakukan satu kali setiap malam membuat peneliti belum dapat memastikan secara pasti apakah stres muncul sebelum atau setelah seseorang menggunakan internet.
Penulis lainnya, Silke M. Müller, menegaskan bahwa hanya sebagian kecil pengguna internet yang berkembang menjadi pengguna dengan pola penggunaan patologis.
Temuan ini memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan Oxford Internet Institute pada tahun 2023 terhadap sekitar 2,4 juta responden. Penelitian tersebut tidak menemukan hubungan yang signifikan antara penggunaan internet dan penurunan kesehatan mental pada tingkat populasi.
Namun demikian, penelitian Oxford menilai kondisi masyarakat secara umum, bukan secara khusus individu yang telah mengalami gangguan akibat penggunaan internet yang berlebihan. Bahkan, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, akses internet dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kesejahteraan.
Sementara itu, sebuah analisis pada tahun 2024 yang meninjau 12 penelitian pencitraan otak terhadap remaja dengan kecanduan internet menemukan adanya perubahan konektivitas fungsional pada area otak yang berperan dalam fungsi eksekutif, termasuk kemampuan mengingat, mengendalikan perilaku, dan mengambil keputusan. Meski demikian, analisis tersebut masih memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan 237 peserta yang seluruhnya berasal dari beberapa negara di Asia.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan internet yang berlebihan memiliki keterkaitan dengan meningkatnya stres, memburuknya suasana hati, dan kecenderungan mengabaikan aktivitas penting dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, hasil penelitian ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan dalam menggunakan internet agar aktivitas digital tetap memberikan manfaat tanpa mengganggu kesehatan mental maupun kualitas hidup.